Langkah-langkah yang akan
ditempuh adalah pertama-tama pembelian tanah untuk para migrant Yahudi,
kemudian membuat orang Arab-Palestina tidak betah tinggal di Palestina, dan
yang terakhir mengusir penduduk Arab-Palestina melalui terorisme. Untuk mendukung gagasan program migrasi orang Yahudi ke Palestina dan menyediakan
tanah bagi mereka, maka dibentuklah lembaga keuangan, seperti: the Jewish Colonial Trust, the
Anglo-Palestine Company, the Anglo-Palestine Bank, dan the Jewish National
Fund.
Ketika kongres Bazel pada 1897
itu berlangsung bangsa Arab-Palestina mencapai
95 %, dan mereka menguasai 99 % dari tanah Palestina. Jadi jelas sejak
awal zionisme bertujuan untuk menghapuskan kepemilikan dari mayoritas Arab-Palestina, baik secara
politik maupun fisik, merupakan suatu persyaratan yang tak dapat dihindari untuk membentuk
sebuah Negara Yahudi. Dalam tujuan itu tidak hanya terbatas pada tanah, tetapi
tanah tanpa penduduk lain di tengah-tengah mayoritas penduduk Yahudi.
Setelah kegagalannya dengan
Sultan Abdul Hamid II, setahun setelah Kongres Zionisme Internasional ke 1 di
Bazel, pada tahun 1898, Theodore Herzl mengalihkan perhatiannya kepada Jerman
dan Kaizer Wilhelm II yang memiliki ambisi ke Timur Tengah. Theodore Herzl
secara ketus memberitahukan orang Jerman: “Kami
membutuhkan sebuah protektorat, dan Jerman kami anggap paling cocok bagi kami.”
Ia mengemukakan bahwa para pemimpin zionisme adalah orang-orang Yahudi
yang berbahasa Jerman. Jadi sebuah
Negara Yahudi di Palestina akan memperkenalkan budaya Jerman ke wilayah
tersebut. Namun Kaizer menolak usul Theodore Herzl, sebab utamanya, ia tidak
mau menyinggung perasaan kesultanan Usmaniyah, yang merupakan langganan utama
produk persenjataan Jerman, atau membuat murka Kristen di dalam negeri.
Sementara itu pada tahun 1899
walikota Jerusalem Youssuf Zia Khalidi, seorang cendekiawan Palestina dan
anggota parlemen Usmaniyah menulis sepucuk surat yang diteruskan kepada
Theodore Herzl, memperingatkan klaim zionis terhadap Palestina. Bangsa
Arab-Palestina secara khusus menentang tuntutan zionisme yang didasarkan pada
dalih bahwa orang Yahudi mempunyai hak atas Palestina hanya karena mereka
pernah hidup dua millennium yang silam. Khalidi mencatat bahwa klaim kaum
zionis atas Palestina tidak dapat dilaksanakan mengingat tanah Palestina telah
berada di bawah kekuasaan Islam selama tiga belas abad terakhir dan bahwa orang
muslim dan Kristen memiliki kepentingan
yang sama mengingat tempat-tempat
suci yang ada . lagipula ia menambahkan, penduduk mayoritas Arab-Palestina
menentang penguasaan kaum Yahudi. Ketika Istambul memutuskan pada tahun 1901
untuk memberikan penduduk asing yang pada intinya bermakna imigran baru Yahudi,
hak yang sama untuk membeli tanah, sekelompok tokoh-tokoh terkemuka
Arab-Palestina mengirim sebuah petisi ke ibukota Ustmaniyah memprotes kebijakan
itu.
Di pihak Theodore Herzl tanpa
mengenal putus asa ia memalingkan mukanya ke Inggris. Itu dilakukannya tahun
1902. Disini ia menemukan lahan yang subur. Ada tradisi di kalangan Kristen
protestan dan para penulis inggris
sepanjang dua abad sebelumnya untuk mendukung “kembalinya Yahudi ke
Palestina”, tradisi yang bergerak juga ke Amerika Serikat . lagipula
kepentingan Inggris tentang keamanan terusan Suez sebagai urat nadi ke
jajahannya di Timur Jauh telah menggiringnya untuk merebut Mesir pada tahun
1882, dan pengamanan Terusan Suez tetap merupakan focus kepentingan London di
wilayah itu. Mempunyai penduduk yang bersahabat di wilayah itu akan memberikan
keuntungan yang tak terperikan bagi Inggris.
Sebagaimana Jerman, Inggris pun
merasa tidak memiliki kepentingan berhadapan dengan Sultan, membuka dukungan
Inggris terhadap Palestina bukan hal yang menarik bagi Inggris. Lalu Theodore
Herzl meminta membuka hubungan dengan teritori Inggris yang terdekat: Siprus,
El Arish, atau semenanjung Sinai. Menteri daerah jajahan Joseph Chamberlain
mencoret Siprus, karena kehadiran Yahudi akan menimbulkan murka penduduk Yunani
dan Turki, dan Mesir tidak disetujui
karena gubernur Inggris setempat me nentang memberikan tanah sejengkal
pun dari wilayah Mesir. Lalu Chamberlain menyarankan sebuah teritori sebagai
kompromi, kira-kira seluas Palestina di daerah Afrika Timur milik Inggris.
Meskipun pada waktu itu daerah itu dinamakan Uganda, wilayahnya kini kira-kira
ada di Kenya.
Theodore Herzl bersuka cita dengan tawaran itu. Menurutnya
kalau bukan menjadi pengganti bagi Palestina, paling tidak berperan sebagai
batu loncatan. Tetapi saran itu berhadapan dengan badai protes dari kaum
zionis, terutama datang dari Rusia dan juga dari daerah-daerah jajahan Inggris.
Pada awal tahun 1904 baik Theodore Herzl maupun Joseph Chamberlain dengan
senang hati bersepakat melupakan pikiran itu.
Pengalaman itu sangat
menguntungkan bagi zionisme. Sebuah
koneksi penting telah terjalin dengan pejabat-pejabat tinggi pemerintahan
Inggris, suatu hubungan yang diramalkan oleh Theodore Herzl dengan tepat, bahwa
pada suatu saat akhirnya kelak akan membawa hasil yang nyata. Sebelum
meninggalnya pada tanggal 3 Juli 1904 Theodore Herzl berkata pada seorang
kawan, “Anda akan lihat waktunya akan
tiba Inggris akan melakukan apa saja yang ada dalam kekuasaannya untuk
menyerahkan Palestina kepada kita untuk berdirinya suatu negara Yahudi”.
Sesudah itu ambisi kaum zionis difokuskan semata-mata pada Palestina sebagai
tempat bagi negara Yahudi yang diharapkan.
Masyarakat Palestina tidak banyak
mengetahui langkah-langkah yang ditempuh Theodore Herzl selama itu. Hubungan
antara orang Arab-Palestina dengan orang Yahudi secara umum tetap cukup
bersahabat sampai dengan Revolusi Turki Muda pada 1908. Menurut
sejarawanNeville J.Mandel, “Menjelang
malam Revolusi Turki Muda…. Sentimen anti-zionisme pada masyarakat Arab belum
nampak. Sebaliknya, memang ada keresahan berkenaan dengan semakin meluasnya
orang Yahudi di Palestina, dan penentangan yang kian meluas terhadap hal itu.”
Sejarawan Israeli, Gershon Shafir, menambahkan, “Revolusi Turki Muda pada bulan Juli 1908 harus dipandang sebagai permulaan dari konflik Yahudi- Arab
secara terbuka, demikian juga lahirnya gerakan nasionalisme Arab.”
Sebagian besar ketidak pedulian
masyarakat Arab-Palestina sampai tahun 1908 disebabkan oleh kenyataan bahwa
para perintis zionis berhasil menekankan bahwa permintaan mereka hanya tanah
dan hubungan persahabatan, sambil tetap menutup tujuan yang sesungguhnya
–mengusir orang Arab-Palestina. Sesua buku-buku Theodore Herzl tentang perlunya
tindakan “kehati-hatian dan kewaspadaan”, bahwa di saat senjakala kolonialisme,
gagasan yang berisi niat mengusir penduduk asli setempat untuk memberikan ruang
bagi imigran asing dianggap berbau terlalu sinis, sehingga para perintis zionis
berupaya menghindarinya demi pertimbangan politik, serta demi kebutuhan untuk
memelihara hubungan baik dengan jiran mereka. Sehingga rencana untuk mengusir
orang Arab-Palestina itu kemudian secara eufimistik di kalangan kaum zionis dan
dunia luar dikenal sebagai “masalah pengalihan”. Kepada publik, kaum zionis
menekankan betapa manfaat yang akan didapat oleh masyarakat Arab-Palestina dan
Kesultanan Usmaniyah dengan kehadiran imigran Yahudi yang baru, yang akan
membawa serta bersama mereka modal, ilmu pengetahuan, dan hubungan dengan
jaringan internasional.
Sumber: (Zionisme:Gerakan
Menaklukkan Dunia, ZA.Maulani)
No comments:
Post a Comment