Friday, 7 December 2012

ZIONISME; PENGGUSURAN PENDUDUK ARAB-PALESTINA



Langkah-langkah yang akan ditempuh adalah pertama-tama pembelian tanah untuk para migrant Yahudi, kemudian membuat orang Arab-Palestina tidak betah tinggal di Palestina, dan yang terakhir mengusir penduduk Arab-Palestina melalui  terorisme. Untuk mendukung gagasan  program migrasi  orang Yahudi ke Palestina dan menyediakan tanah bagi mereka, maka dibentuklah lembaga keuangan, seperti: the Jewish Colonial Trust, the Anglo-Palestine Company, the Anglo-Palestine Bank, dan the Jewish National Fund.
Ketika kongres Bazel pada 1897 itu berlangsung bangsa Arab-Palestina mencapai  95 %, dan mereka menguasai 99 % dari tanah Palestina. Jadi jelas sejak awal zionisme bertujuan untuk menghapuskan kepemilikan  dari mayoritas Arab-Palestina, baik secara politik maupun fisik, merupakan suatu persyaratan  yang tak dapat dihindari untuk membentuk sebuah Negara Yahudi. Dalam tujuan itu tidak hanya terbatas pada tanah, tetapi tanah tanpa penduduk lain di tengah-tengah mayoritas penduduk Yahudi.
Setelah kegagalannya dengan Sultan Abdul Hamid II, setahun setelah Kongres Zionisme Internasional ke 1 di Bazel, pada tahun 1898, Theodore Herzl mengalihkan perhatiannya kepada Jerman dan Kaizer Wilhelm II yang memiliki ambisi ke Timur Tengah. Theodore Herzl secara ketus memberitahukan orang Jerman: “Kami membutuhkan sebuah protektorat, dan Jerman kami anggap paling cocok bagi kami.” Ia mengemukakan bahwa para pemimpin zionisme adalah orang-orang Yahudi yang  berbahasa Jerman. Jadi sebuah Negara Yahudi di Palestina akan memperkenalkan budaya Jerman ke wilayah tersebut. Namun Kaizer menolak usul Theodore Herzl, sebab utamanya, ia tidak mau menyinggung perasaan kesultanan Usmaniyah, yang merupakan langganan utama produk persenjataan Jerman, atau membuat murka Kristen di dalam negeri.
Sementara itu pada tahun 1899 walikota Jerusalem Youssuf Zia Khalidi, seorang cendekiawan Palestina dan anggota parlemen Usmaniyah menulis sepucuk surat yang diteruskan kepada Theodore Herzl, memperingatkan klaim zionis terhadap Palestina. Bangsa Arab-Palestina secara khusus menentang tuntutan zionisme yang didasarkan pada dalih bahwa orang Yahudi mempunyai hak atas Palestina hanya karena mereka pernah hidup dua millennium yang silam. Khalidi mencatat bahwa klaim kaum zionis atas Palestina tidak dapat dilaksanakan mengingat tanah Palestina telah berada di bawah kekuasaan Islam selama tiga belas abad terakhir dan bahwa orang muslim dan Kristen memiliki kepentingan  yang sama mengingat  tempat-tempat suci yang ada . lagipula ia menambahkan, penduduk mayoritas Arab-Palestina menentang penguasaan kaum Yahudi. Ketika Istambul memutuskan pada tahun 1901 untuk memberikan penduduk asing yang pada intinya bermakna imigran baru Yahudi, hak yang sama untuk membeli tanah, sekelompok tokoh-tokoh terkemuka Arab-Palestina mengirim sebuah petisi ke ibukota Ustmaniyah memprotes kebijakan itu.
Di pihak Theodore Herzl tanpa mengenal putus asa ia memalingkan mukanya ke Inggris. Itu dilakukannya tahun 1902. Disini ia menemukan lahan yang subur. Ada tradisi di kalangan Kristen protestan dan para penulis inggris  sepanjang dua abad sebelumnya untuk mendukung “kembalinya Yahudi ke Palestina”, tradisi yang bergerak juga ke Amerika Serikat . lagipula kepentingan Inggris tentang keamanan terusan Suez sebagai urat nadi ke jajahannya di Timur Jauh telah menggiringnya untuk merebut Mesir pada tahun 1882, dan pengamanan Terusan Suez tetap merupakan focus kepentingan London di wilayah itu. Mempunyai penduduk yang bersahabat di wilayah itu akan memberikan keuntungan yang tak terperikan bagi Inggris.
Sebagaimana Jerman, Inggris pun merasa tidak memiliki kepentingan berhadapan dengan Sultan, membuka dukungan Inggris terhadap Palestina bukan hal yang menarik bagi Inggris. Lalu Theodore Herzl meminta membuka hubungan dengan teritori Inggris yang terdekat: Siprus, El Arish, atau semenanjung Sinai. Menteri daerah jajahan Joseph Chamberlain mencoret Siprus, karena kehadiran Yahudi akan menimbulkan murka penduduk Yunani dan Turki, dan Mesir tidak disetujui  karena gubernur Inggris setempat me nentang memberikan tanah sejengkal pun dari wilayah Mesir. Lalu Chamberlain menyarankan sebuah teritori sebagai kompromi, kira-kira seluas Palestina di daerah Afrika Timur milik Inggris. Meskipun pada waktu itu daerah itu dinamakan Uganda, wilayahnya kini kira-kira ada di Kenya.
Theodore Herzl  bersuka cita dengan tawaran itu. Menurutnya kalau bukan menjadi pengganti bagi Palestina, paling tidak berperan sebagai batu loncatan. Tetapi saran itu berhadapan dengan badai protes dari kaum zionis, terutama datang dari Rusia dan juga dari daerah-daerah jajahan Inggris. Pada awal tahun 1904 baik Theodore Herzl maupun Joseph Chamberlain dengan senang hati bersepakat melupakan pikiran itu.
Pengalaman itu sangat menguntungkan bagi  zionisme. Sebuah koneksi penting telah terjalin dengan pejabat-pejabat tinggi pemerintahan Inggris, suatu hubungan yang diramalkan oleh Theodore Herzl dengan tepat, bahwa pada suatu saat akhirnya kelak akan membawa hasil yang nyata. Sebelum meninggalnya pada tanggal 3 Juli 1904 Theodore Herzl berkata pada seorang kawan, “Anda akan lihat waktunya akan tiba Inggris akan melakukan apa saja yang ada dalam kekuasaannya untuk menyerahkan Palestina kepada kita untuk berdirinya suatu negara Yahudi”. Sesudah itu ambisi kaum zionis difokuskan semata-mata pada Palestina sebagai tempat bagi negara Yahudi yang diharapkan.
Masyarakat Palestina tidak banyak mengetahui langkah-langkah yang ditempuh Theodore Herzl selama itu. Hubungan antara orang Arab-Palestina dengan orang Yahudi secara umum tetap cukup bersahabat sampai dengan Revolusi Turki Muda pada 1908. Menurut sejarawanNeville J.Mandel, “Menjelang malam Revolusi Turki Muda…. Sentimen anti-zionisme pada masyarakat Arab belum nampak. Sebaliknya, memang ada keresahan berkenaan dengan semakin meluasnya orang Yahudi di Palestina, dan penentangan yang kian meluas terhadap hal itu.” Sejarawan Israeli, Gershon Shafir, menambahkan, “Revolusi Turki Muda pada bulan Juli 1908 harus dipandang  sebagai permulaan dari konflik Yahudi- Arab secara terbuka, demikian juga lahirnya gerakan nasionalisme Arab.”
Sebagian besar ketidak pedulian masyarakat Arab-Palestina sampai tahun 1908 disebabkan oleh kenyataan bahwa para perintis zionis berhasil menekankan bahwa permintaan mereka hanya tanah dan hubungan persahabatan, sambil tetap menutup tujuan yang sesungguhnya –mengusir orang Arab-Palestina. Sesua buku-buku Theodore Herzl tentang perlunya tindakan “kehati-hatian dan kewaspadaan”, bahwa di saat senjakala kolonialisme, gagasan yang berisi niat mengusir penduduk asli setempat untuk memberikan ruang bagi imigran asing dianggap berbau terlalu sinis, sehingga para perintis zionis berupaya menghindarinya demi pertimbangan politik, serta demi kebutuhan untuk memelihara hubungan baik dengan jiran mereka. Sehingga rencana untuk mengusir orang Arab-Palestina itu kemudian secara eufimistik di kalangan kaum zionis dan dunia luar dikenal sebagai “masalah pengalihan”. Kepada publik, kaum zionis menekankan betapa manfaat yang akan didapat oleh masyarakat Arab-Palestina dan Kesultanan Usmaniyah dengan kehadiran imigran Yahudi yang baru, yang akan membawa serta bersama mereka modal, ilmu pengetahuan, dan hubungan dengan jaringan internasional.

Sumber:  (Zionisme:Gerakan Menaklukkan Dunia, ZA.Maulani)

No comments:

Post a Comment