Friday, 14 December 2012

Asbabunnuzul Surat Al-A’laa

 Kami akan membacakan (Al Quran) kepadamu (Muhammad) Maka kamu tidak akan lupa,
(al-A’laa: 6)


Diriwayatkan ole hath-Thabarani yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas. Di dalam sanadnya terdapat Juwaibir, perawi yang sangat daif, bahwa apabila Jibril datang membawa wahyu kepada Nabi saw, beliau suka mengulang kembali wahyu itu sebelum Jibril selesai menyampaikannya, karena takut lupa lagi. Maka Allah menurunkan ayat ini (al-A’laa: 6) sebagai jaminan bahwa Rasul tidak akan lupa pada wahyu yang telah diturunkan.



Sumber: asbabunnuzul, KHQ.Shaleh dkk

Asbabunnuzul Surat Al-Ghaasyiyah

17. Maka Apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana Dia diciptakan,
(al-Ghasyiyah: 17)

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim, yang bersumber dari Qatadah bahwa ketika Allah melukiskan cirri-ciri syurga, kaum-kaum yang sesat merasa heran. Maka Allah menurunkan ayat ini  (al-Ghasyiyah: 17) sebagai perintah untuk memikirkan keluhuran dan keajaiban ciptaan Allah.



Sumber: asbabunnuzul, KHQ.Shaleh dkk

Asbabunnuzul Surat Al-Fajr

27. Hai jiwa yang tenang. (al-Fajr: 27)

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Buradah bahwa firman Allah surat al Fajr: 27 turun berkenaan dengan Hamzah (yang gugur sebagai syahid)

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dari Juwaibir, dari adl-Dlahak, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa Nabi saw bersabda: “Siapa yang akan membeli sumur Rumat untuk melepaskan dahaga. Mudah-mudahan Allah mengampuni dosanya.” Sumur itupun dibeli oleh Utsman. Nabi saw bersabda: “Apakah engkau rela sumur itu dijadikan sumber minum bagi semua orang?” Utsman mengiyakannya. Maka Allah menurunkan ayat ini (al-Fajr: 27) berkenaan dengan Utsman.



Sumber: asbabunnuzul, KHQ.Shaleh dkk

Asbabunnuzul Surat Adl-Dluhaa



1. demi waktu matahari sepenggalahan naik,
2. dan demi malam apabila telah sunyi (gelap),
3. Tuhanmu tiada meninggalkan kamu dan tiada (pula) benci kepadamu*.
4. dan Sesungguhnya hari kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang sekarang (permulaan)**.
5. dan kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu , lalu (hati) kamu menjadi puas.
(adl-Dluhaa 1-5)

*  Maksudnya: ketika turunnya wahyu kepada Nabi Muhammad s.a.w. terhenti untuk Sementara waktu, orang-orang musyrik berkata: "Tuhannya (Muhammad) telah meninggalkannya dan benci kepadaNya". Maka turunlah ayat ini untuk membantah Perkataan orang-orang musyrik itu.
** Maksudnya ialah bahwa akhir perjuangan Nabi Muhammad s.a.w. itu akan menjumpai kemenangan-kemenangan, sedang permulaannya penuh dengan kesulitan-kesulitan. ada pula sebagian ahli tafsir yang mengartikan akhirat dengan kehidupan akhirat beserta segala kesenangannya dan ula dengan arti kehidupan dunia.



Diriwayatkan oleh asy-Syaikhaan (al-Bukhari dan Muslim) dan lain-lain yang bersumber dari Jundub  bahwa Rasulullah saw merasa kurang enak badan sehingga beliau tidak shalat malam selama satu atau dua malam. Seorang wanita datang kepada beliau seraya berkata, “Hai Muhammad, aku melihat setanmu (yang ia maksud adalah malaikat Jibril) telah meninggalkan engkau.” Maka Allah menurunkan ayat ini (1-3) yang menegaskan bahwa Allah tidak membiarkan Muhammad dan tidak membencinya.

Diriwayatkan oleh Sa’id bin Manshur dan al-Faryabi, yang bersumber dari Jundub bahwa Jibril untuk beberapa lama tidak datang kepada Nabi saw. Berkatalah kaum musyrikin: “Muhammad telah ditinggalkan.” Maka turunlah ayat-ayat ini (adh-Dhuhaa 1-3) yang membantah ucapan mereka.

Diriwayatkan oleh al-Hakim yang bersumber dari Zaid bin Arqam bahwa berhari-hari Rasulullah saw tidak didatangi Jibril. Berkatalah ummu Jamil, istri Abu Lahab: “Aku berkesimpulan bahwa sahabatmu (Jibril) telah meninggalkan engkau dan marah kepadamu.” Maka turunlah ayat-ayat ini (1-3) yang membantah anggapan ummu Jamil ini.

Diriwayatkan oleh ath-Thabrani, Ibnu Abi Syaibah di dalam Musnadnya, al-Wahidi, dan lain-lain, dengan sanad yang diantaranya ada perawi yang tidak dikenal, dari Hafsh bin Maisarah al-Quraisy, dari ibunya, yang bersumber dari ibunya, yaitu Khaulah (nenek Hafsh), bahwa seekor anak anjing masuk ke rumah Rasulullah saw dan tinggal di bawah ranjang beliau hingga mati. Ketika itu selama empat hari, Rasulullah saw tidak menerima wahyu. Rasulullah saw bersabda: “Hai Khaulah, ada apa di rumahku ini sehingga Jibril tidak datang kepadaku?” Khaulah berkata: “Ketika aku membersihkanrumah dan menyapunya, dari bawah ranjang seekor anak anjing yang sudah mati tersapu olehku, kemudian aku mengeluarkannya.” Ketika itu aku melihat Rasulullah saw gemetar kedinginan padahal beliau mengenakan jubah-sebagaimana biasanya beliau suka gemetar manakala turun wahyu”. Pada waktu itulah turun ayat-ayat ini (adh-Dhuha 1-5)

Menurut al-Hafizh Ibnu Hajar, kisah lambatnya Jibril turun yang disebabkan anak anjing itu masyhur. Akan tetapi sangatlah gharib bila dijadikan sebagai sebab turunnya ayat itu, bahkan ganjil dan terbantahlah oleh riwayat yang termaktub di dalam kitab Shahihul Bukhari.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari ‘Abdulallah bin Syaddad bahwa Khadijah berkata: “Barangkali Rabbmu marah kepadamu.” Ayat-ayat ini (1-5) turun berkenaan dengan peristiwa tersebut.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari ‘Urwah bahwa Jibril lama tidak datang kepada Nabi saw sehingga beliau merasa sangat  cemas. Khadijah berkata: “Bila melihat kecemasanmu, aku kira Rabbmu benar-benar marah kepadamu.” Ayat adh-Dhuha 1-3 turun berkenaan dengan peristiwa tersebut.

Kedua riwayat Ibnu Jarir di atas mursal, akan tetapi rawi-rawinya tsiqat (kuat). Al-Hafizh Ibnu Hajar menyatakan bahwa kedua riwayat itu (riwayat al-Hakim dan Ibnu Jarir) jelas, yaitu dari Ummu Jamil untuk menyatakan dendam kesumatnya, dan Khadijah ungkapan turut bersedih dan cemas.

Diriwayatkan oleh al-Hakim, al-Baihaqi di dalam kitab ad-Dalaa-il, ath-Thabarani, dll, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa dijanjikan kepada Nabi saw kemenangan bagi umatnya, sehingga beliau pun merasa gembira karenanya. Ayat ini adh-Dhuha ayat 5 turun berkenaan dengan peristiwa tersebut.

Diriwayatkan ole hath-Thabarani di dalam kitab al-Ausath, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas, isnad hadits ini hasan, bahwa Rasulullah saw bersabda: “Diperlihatkan kepadaku kemenangan-kemenangan yang akan diperoleh umatku sesudah aku (meninggal), sehingga aku pun merasa sangat gembira.” Maka turunlah ayat ini (adh-Dhuhaa: 4) berkenaan dengan peristiwa tersebut.



Sumber: asbabunnuzul, KHQ.Shaleh dkk

Asbabunnuzul Surat Al-Insyiroh



1. Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu?,
2. dan Kami telah menghilangkan daripadamu bebanmu,
3. yang memberatkan punggungmu*?
4. dan Kami tinggikan bagimu sebutan (nama)mu**,
5. karena Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan,
6. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.
7. Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain*,
8. dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.
(al-Insyiroh 1-8)
 
*       Yang dimaksud dengan beban di sini ialah kesusahan-kesusahan yang diderita Nabi Muhammad s.a.w. dalam menyampaikan risalah.
**  Meninggikan nama Nabi Muhammad s.a.w di sini Maksudnya ialah meninggikan derajat dan mengikutkan namanya dengan nama Allah dalam kalimat syahadat, menjadikan taat kepada Nabi Termasuk taat kepada Allah dan lain-lain.
**    Maksudnya: sebagian ahli tafsir menafsirkan apabila kamu (Muhammad) telah selesai berdakwah Maka beribadatlah kepada Allah; apabila kamu telah selesai mengerjakan urusan dunia Maka kerjakanlah urusan akhirat, dan ada lagi yang mengatakan: apabila telah selesai mengerjakan shalat berdoalah.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari al-Hasan bahwa ketika ayat ini (al-Insyiroh;6) turun, Rasulullah saw bersabda: “Bergembiralah kalian, karena akan datang kemudahan bagi kalian. Satu kesusahan tidak akan mengalahkan dua kemudahan.



Sumber: asbabunnuzul, KHQ.Shaleh dkk

Asbabunnuzul Surat At-Tiin

5. kemudian Kami kembalikan Dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka),
6. kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh; Maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya.
(At-Tiin 5-6)

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari al-‘Aufi yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa firman Allah at-Tiin ayat 5 “kemudian Kami kembalikan Dia ke tempat yang serendah-rendahnya” mengandung arti dikembalikan ke tingkat pikun (seperti bayi lagi). Sehubungan dengan hal ini, Rasulullah saw pernah ditanya tentang kedudukan orang-orang pikun. Maka Allah menurunkan ayat selanjutnya (at-Tiin ayat 6), yang menegaskan bahwa mereka yang beriman dan beramal sholeh sebelum pikun, akan mendapat pahala yang tiada putus-putusnya.


Sumber: asbabunnuzul, KHQ.Shaleh dkk

Asbabunnuzul Surat Al-'Alaq

6. Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas,
7. karena Dia melihat dirinya serba cukup.
8. Sesungguhnya hanya kepada Tuhanmulah kembali(mu).
9. bagaimana pendapatmu tentang orang yang melarang,
10. seorang hamba ketika mengerjakan shalat*,
11. bagaimana pendapatmu jika orang yang melarang itu berada di atas kebenaran,
12. atau Dia menyuruh bertakwa (kepada Allah)?
13. bagaimana pendapatmu jika orang yang melarang itu mendustakan dan berpaling?
14. tidaklah Dia mengetahui bahwa Sesungguhnya Allah melihat segala perbuatannya?
15. ketahuilah, sungguh jika Dia tidak berhenti (berbuat demikian) niscaya Kami tarik ubun-ubunnya**,
16. (yaitu) ubun-ubun orang yang mendustakan lagi durhaka.
17. Maka Biarlah Dia memanggil golongannya (untuk menolongnya),
18. kelak Kami akan memanggil Malaikat Zabaniyah***,
19. sekali-kali jangan, janganlah kamu patuh kepadanya; dan sujudlah dan dekatkanlah (dirimu kepada Tuhan).

*   Yang dimaksud dengan orang yang hendak melarang itu ialah Abu Jahal, yang dilarang itu ialah Rasulullah sendiri. akan tetapi usaha ini tidak berhasil karena Abu Jahal melihat sesuatu yang menakutkannya. setelah Rasulullah selesai shalat disampaikan orang berita itu kepada Rasulullah. kemudian Rasulullah mengatakan: "Kalau jadilah Abu Jahal berbuat demikian pasti Dia akan dibinasakan oleh Malaikat".
**  Maksudnya: memasukkannya ke dalam neraka dengan menarik kepalanya.
***Malaikat Zabaniyah ialah Malaikat yang menyiksa orang-orang yang berdosa di dalam neraka.
Diriwayatkan oleh Ibnul Mundzir yang bersumber dari Abu Hurairah bahwa Abu Jahal pernah berkata, “Apakah Muhammad meletakkan mukanya ke tanah (sujud) di hadapan kamu ?” ketika itu orang membenarkannya. Selanjutnya Abu Jahal berkata: “Demi al-Lata dan al-‘Uzza, sekiranya aku melihat dia sedang berbuat demikian, akan aku injak batang lehernya dan kubenamkan mukanya ke dalam tanah.” Ayat-ayat ini (6-19) turun berkenaan dengan peristiwa tersebut.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa ketika Rasulullah saw sedang shalat, datanglah Abu Jahal melarang beliau melakukannya. Ayat-ayat 6-19 ini turun berkenaan dengan peristiwa tersebut sebagai ancaman kepada orang yang menghalang-halangi orang yang hendak beribadah.

Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan lain-lain, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas, menurut at-Tirmidzi hadits ini hasan shahih, bahwa ketika Rasulullah saw sedang shalat, datanglah Abu Jahal seraya berkata: “Bukankah aku sudah melarang engkau berbuat demikian (shalat) ?” Nabi Muhammad saw pun membentaknya. Abu Jahal berkata: “Bukankah engkau tau bahwa di sini tidak ada orang yang lebih banyak pengikutnya daripada aku ?” maka Allah menurunkan ayat-ayat ini (al-‘Alaq 17-19) sebagai ancaman kepada orang yang menghalang-halangi orang yang hendak melakukan ibadah dan merasa banyak pengikut.




Sumber: asbabunnuzul, KHQ.Shaleh dkk

Asbabunnuzul Surat Al-Qodr

1. Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan*.
2. dan tahukah kamu Apakah malam kemuliaan itu?
3. malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.
4. pada malam itu turun malaikat-malaikat dan Malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan.
5. malam itu (penuh) Kesejahteraan sampai terbit fajar.

* Malam kemuliaan dikenal dalam bahasa Indonesia dengan malam Lailatul Qadr Yaitu suatu malam yang penuh kemuliaan, kebesaran, karena pada malam itu permulaan turunnya Al Quran.

Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi, al-Hakim, dan Ibnu Jarir, yang bersumber dari al-Hasan bin ‘Ali bahwa Nabi Muhammad saw bermimpi melihat bani Umayyah menduduki dan menguasai mimbarnya setelah beliau wafat. Beliau merasa tidak senang karenanya. Maka turunlah surat al-Kautsar ayat 1 (Sesungguhnya kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak) dan surat al-Qadr ayat 1-5 untuk membesarkan hati beliau.

Al-Qasim al-Hirani menyatakan bahwa kerajaan bani Umayyah itu ternyata berlangsung selama tidak lebih dan tidak kurang dari seribu bulan. Menurut at-Tirmidzi, riwayat ini gharib, sedang al-Muzani dan Ibnu Katsir menyebutnya sangat munkar.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dan al-Wahidi, yang bersumber dari Mujahid bahwa Rasulullah saw pernah menyebut-nyebut bani Israel yang berjuang fiisabilillah menggunakan senjatanya selama seribu bulan terus menerus. Kaum Muslimin mengagumi perjuangan orang tersebut. Maka Allah menurunkan surat al-Qadr 1-3 yang menegaskan bahwa satu malam laitatul qadr lebih baik daripada perjuangan bani Israel selama seribu bulan itu.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Mujahid bahwa di kalangan bani Israel terdapat seorang laki-laki yang suka beribadah malam hari hingga pagi dan berjuang memerangi musuh pada siang harinya. Perbuatan itu dilakukannya selama seribu bulan. Maka Allah menurunkan ayat ini (al-Qadr 1-3) yang menegaskan bahwa satu malam lailatul qadr lebih baik daripada amal seribu bulan yang dilakukan seorang laki-laki dari bani Israel tersebut.



Sumber: asbabunnuzul, KHQ.Shaleh dkk

Asbabunnuzul Surat Az-Zalzalah

7. Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya Dia akan melihat (balasan)nya.
8. dan Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya Dia akan melihat (balasan)nya pula.


Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Sa’id bin Jubair bahwa ketika turun ayat 8 al-Insan (dan mereka member makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan), kaum Muslimin menganggap bahwa orang yang bersedekah sedikit  tidak akan memperoleh pahala; orang yang berbuat dosa kecil, seperti berbohong, mengumpat, mencuri penglihatan, dan sebagainya tidak bercela; serta menganggap bahwa ancaman neraka dari Allah hanya disediakan bagi orang-orang yang berbuat dosa besar. Maka turunlah ayat az-Zalzalah 7-8 sebagai bantahan terhadap anggapan mereka itu.


Sumber: asbabunnuzul, KHQ.Shaleh dkk

Asbabunnuzul Surat At-Takaatsur

1. Bermegah-megahan telah melalaikan kamu*,
2. sampai kamu masuk ke dalam kubur.
3. janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu),
4. dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui.

* Maksudnya: Bermegah-megahan dalam soal banyak harta, anak, pengikut, kemuliaan, dan seumpamanya telah melalaikan kamu dari ketaatan.

Ibnu Hatim yang bersumber dari Ibnu Buraidah meriwayatkan bahwa ayat ini (1-2) turun berkenaan dengan dua kabilah Anshar, bani Haritsah dan Bani Harits yang saling menyombongkan diri dengan kekayaan dan keturunannya. Mereka saling Tanya: “Apakah kalian mempunyai pahlawan yang segagah dan secekatan si anu?” mereka saling menyombongkan diri dengan kedudukan dan kekayaan orang-orang yang masih hidup. Mereka juga saling mengajak pergi ke kuburan untuk menyombongkan kepahlawanan golongannya yang sudah gugur, dengan menuju ke kuburannya. Ayat ini (1-2) turun sebagai teguran kepada orang-orang yang hidup bermegah-megahan sehingga ibadahnya kepada Allah terlalaikan.

Dalam riwayat Ibnu Jarir yang bersumber dari ‘Ali dikemukakan bahwa ‘Ali pernah berkata: “Pada mulanya kami sangsi tentang siksa kubur. Setelah turun ayat ini (1-4), hilanglah kesangsian itu.”

Sumber: asbabunnuzul, KHQ.Shaleh dkk

Monday, 10 December 2012

Asbabunnuzul Surat Al-Humazah

1. kecelakaanlah bagi Setiap pengumpat lagi pencela,
2. yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitung*
3. Dia mengira bahwa hartanya itu dapat mengkekalkannya,
4. sekali-kali tidak! Sesungguhnya Dia benar-benar akan dilemparkan ke dalam Huthamah.
5. dan tahukah kamu apa Huthamah itu?
6. (yaitu) api (yang disediakan) Allah yang dinyalakan,
7. yang (membakar) sampai ke hati.
8. Sesungguhnya api itu ditutup rapat atas mereka,
9. (sedang mereka itu) diikat pada tiang-tiang yang panjang.
(al-Humazah: 1-9)
*Maksudnya mengumpulkan dan menghitung-hitung harta yang karenanya Dia menjadi kikir dan tidak mau menafkahkannya di jalan Allah.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari ‘Utsman dan Ibnu ‘Umar bahwa ‘Utsman dan Ibnu ‘Umar berkata: “Masih segar terngiang di telinga kami bahwa ayat ini (al-Humazah : 1-2) turun berkenaan dengan Ubay bin Khalaf, seorang tokoh Quraisy yang kaya raya, yang selalu mengejek dan menghina Rasul dengan kekayaannya.”

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari as-Suddi bahwa ayat ini (al-Humazah 1-3) turun berkenaan dengan al-Akhnas bin Syariq yang selalu mengejek dan mengumpat orang. Ayat tersebut turun sebagai teguran terhadap perbuatan seperti itu.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari seorang suku Riqqah bahwa ayat ini (al_Humazah: 1-3) turun berkenaan dengan Jamil bin ‘Amir al-Jumhi, seorang tokoh musyrik yang selalu mengejek dan menghina orang.

Diriwayatkan oleh Ibnul Mundzir yang bersumber dari Ibnu Ishaq bahwa Umayyah bin Khalaf selslu mencela dan menghina Rasulullah apabila berjumpa dengannya. Maka Allah menurunkan ayat ini (al-Humazah: 1-9) sebagai ancaman siksa yang sangat dasyat terhadap orang-orang yang mempunyai anggapan dan berbuat seperti itu.


Sumber: asbabunnuzul, KHQ.Shaleh dkk

Asbabunnuzul Surat Quraisy

1. karena kebiasaan orang-orang Quraisy,
2. (yaitu) kebiasaan mereka bepergian pada musim dingin dan musim panas.
3. Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan Pemilik rumah ini (Ka'bah).
4. yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan.
(Quraisy: 1-4)

*Orang Quraisy biasa Mengadakan perjalanan terutama untuk berdagang ke negeri Syam pada musim panas dan ke negeri Yaman pada musim dingin. dalam perjalanan itu mereka mendapat jaminan keamanan dari penguasa-penguasa dari negeri-negeri yang dilaluinya. ini adalah suatu nikmat yang Amat besar dari Tuhan mereka. oleh karena itu sewajarnyalah mereka menyembah Allah yang telah memberikan nikmat itu kepada mereka.

Diriwayatkan oleh al-Hakim dan lain-lain, yang bersumber dari Ummu Hani’ binti Abi Thalib bahwa Rasulullah saw bersabda, “Allah mengutamakan kaum Quraisy dengan tujuh perkara…”sampai akhir hadits. Di dalam hadits tersebut disebutkan : “…. Diturunkan satu surat khusus berkenaan dengan mereka (kaum Quraisy),  dan di dalam surat tersebut tidak disebut kaum lain”, yaitu surat 106 Quraisy ayat 1-4.


Sumber: asbabunnuzul, KHQ.Shaleh dkk

Asbabunnuzul Surat al-Maa’uun

4. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat,
5. (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya,
6. orang-orang yang berbuat riya*,
7. dan enggan (menolong dengan) barang berguna*.
(surat al-Maa'uun: 4-7) 
*  Riya ialah melakukan sesuatu amal perbuatan tidak untuk mencari keridhaan Allah akan tetapi untuk mencari pujian atau kemasyhuran di masyarakat.
** Sebagian mufassirin mengartikan: enggan membayar zakat.

Diriwayatkan oleh Ibnul Mundzir dari Tharif bin Abi Thalhah yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa ayat ini (4-7) turun berkenaan dengan kaum munafikin yang suka mempertontonkan sholat (ria) kepada kaum Mukminin dan meninggalkannya apabila tidak ada yang melihatnya serta menolak memberikan bantuan ataupun pinjaman. Ayat ini (4-7) turun sebagai peringatan kepada orang-orang yang berbuat seperti itu.


Sumber: asbabunnuzul, KHQ.Shaleh dkk

Asbabunnuzul Surat al-Kautsar

1. Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak.
2. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah*.
3. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu Dialah yang terputus**.
(al-Kautsar: 1-3)

   *Yang dimaksud berkorban di sini ialah menyembelih hewan Qurban dan mensyukuri nikmat Allah.
**Maksudnya terputus di sini ialah terputus dari rahmat Allah.

Diriwayatkan oleh al-Bazzar dll, dengan sanad yang sahih, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa ketika Ka’b bin al-Asyraf (tokoh yahudi) datang ke Mekah, kaum Quraisy berkata kepadanya; “Tuan adalah pemimpin orang Madinah. Bagaimana pendapat tuan tentang  si pura-pura sabar yang diasingkan oleh kaumnya, yang menganggap dirinya lebih mulia dari kami, padahal kami adalah penyambut orang-orang yang melaksanakan haji, pemberi minumnya, serta penjaga Ka’bah ?” Ka’b berkata: “Kalian lebih mulia daripada dia.” Maka turunlah ayat ini (al-Kautsar ayat 3) yang membantah ucapan mereka.

Diriwayatkan oleh Ibn Abi Syaibah di dalam KItab al-Mushannaf dari Ibnul Mundzir, yang bersumber dari ‘Ikrimah bahwa ketika Nabi Muhammad saw diberi wahyu, kaum Quraisy berkata: “Terputuslah hubungan Muhammad dengan kita.” Maka turunlah ayat ini (al-Kautsar ayat 3) sebagai bantahan terhadap ucapan mereka.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari as-suddi. Juga diriwayatkan oleh al-Baihaqi di dalam Kitab ad-dalaa-il, yang bersumber dari Muhammad bin ‘Ali, dan disebutkan bahwa yang meninggal itu ialah Qasim. Bahwa kaum Quraisy menganggap kematian anak laki-laki itu berarti putus keturunan. Ketika putra Rasulullah saw meninggal, al-‘Ashi bin Wa-il mengatakan bahwa keturunan Muhammad saw telah terputus. Maka surat al-Kautsar ayat 3 ini turun sebagai bantahan terhadap ucapan mereka.

Diriwayatkan oleh al-Baihaqi yang bersumber dari Mujahid bahwa ayat 3 ini turun berkenaan dengan al-‘Ashi bin Wa-il yang berkata, “Aku membenci Muhammad.” Maka ayat ini turun  sebagai penegasan bahwa orang yang membenci Rasulullah akan terputus segala kebaikannya.

Diriwayatkan oleh Aththabarani dengan sanad yang dhaif, yang bersumber dari Ayyub bahwa ketika Ibrahim, putra Rasulullah saw wafat, orang-orang musyrik berkata satu sama lain: “Orang murtad itu (Muhammad) telah terputus keturunannya tadi malam.” Allah menurunkan surat al-Kautsar ayat 1-3 ini yang membantah ucapan mereka.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Sa’id bin Jubair bahwa ayat ini (ayat 2) turun pada peristiwa Hudaibiyah, ketika Jibril datang kepada rasulullah memerintahkan kurban dan shalat. Rasulullah segera berdiri seraya menyampaikan khotbah Idul Fitri-mungkin juga khotbah idul Adha (rawi ragu, apakah peristiwa di dalam hadits itu terjadi pada bulan Ramadhan atau pada bulan Zulkaidah) kemudian sholat dua rakaat. Sesudah itu beliau menuju ke tempat kurban, lalu memotong hewan kurban.
Menurut as-Suyuthi, riwayat ini sangat gharib. Matan hadits ini meragukan, karena menyebutkan sholat id didahului khotbah.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Syamr bin ‘Athiyyah bahwa ‘Uqbah bin Abi Mu’aith berkata: “Tidak ada seorang pun anak laki-laki Nabi Muhammad saw yang hidup hingga keturunannya terputus.” Ayat ke 3 ini turun sebagai bantahan terhadap ucapan itu.

Diriwayatkan oleh Ibnul Mundzir yang bersumber dari Ibnu Juraij bahwa ketika Ibrahim putra Rasulullah saw wafat, kaum Quraisy berkata, “Serkarang Muhammad menjadi abtar (terputus keturunannya).” Hal ini menyebabkan Nabi Muhammad saw bersedih hati. Maka turunlah ayat ini (al-Kautsar 1-3) sebagai penghibur baginya.

Sumber: asbabunnuzul, KHQ.Shaleh dkk

Asbabunnuzul Surat al-Kaafiruun

1. Katakanlah: "Hai orang-orang kafir,
2. aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah.
3. dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah.
4. dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah,
5. dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah.
6. untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku."
(al-Kaafiruun: 1-6)

Diriwayatkan ole hath-Thabarani dan Ibnu Abi Hatim, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa kaum Quraisy berusaha mempengaruhi Nabi Muhammad saw dengan menawarkan harta kekayaan agar beliau menjadi orang yang paling kaya di kota Mekah. Mereka juga menawarkan  kepada beliau untuk menikahi wanita mana saja yang beliau kehendaki. Upaya tersebut mereka sampaikan kepda beliau seraya berkata: “INilah yang kami sediakan bagimu hai Muhammad, dengan syarat engkau jangan memaki-maki tuhan-tuhan kami dan menjelek-jelekkannya, atau sembahlah tuhan-tuhan kami selama setahun.” Nabi Muhammad saw menjawab: “Aku akan menunggu wahyu dari Rabb-ku.” Surat ini turun berkenaan dengan peristiwa itu sebagai perintah untuk menolak tawaran kaum kafir itu.
Dan turun pula surat az-Zummar ayat 64 64. Katakanlah: "Maka Apakah kamu menyuruh aku menyembah selain Allah, Hai orang-orang yang tidak berpengetahuan?" sebagai perintah untuk menolak ajakan orang-orang bodoh yang menyembah berhala.

Diriwayatkan oleh ‘Abdurrazzaq yang bersumber dari Wahb; dan diriwayatkan pula oleh Ibnul Mundzir yang bersumber dari Juraij bahwa kaum kafir Quraisy berkata kepada Nabi

sumber: asbabunnuzul KHQ.Shaleh dkk