Thursday, 1 September 2016

Asbabunnuzul Surat Al-‘Aadiyaat

1. demi kuda perang yang berlari kencang dengan terengah-engah,
2. dan kuda yang mencetuskan api dengan pukulan (kuku kakinya),
3. dan kuda yang menyerang dengan tiba-tiba di waktu pagi,
4. Maka ia menerbangkan debu,
5. dan menyerbu ke tengah-tengah kumpulan musuh
(Al-‘Aadiyaat: 1-5)

Diriwayatkan oleh al-Bazzar, Ibnu Abi Hatim, dan al-Hakim, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa Rasulullah saw mengutus pasukan berkuda, akan tetapi setelah sebulan lamanya tidak ada kabar berita tentang pasukan itu. Maka turunlah ayat 1-5 ini sebagai pemberitahuan tentang pasukan tersebut yang sedang bertempur melawan musuh, dan melukiskan kepahlawanan mereka.

Sumber: asbabunnuzul, KHQ.Shaleh dkk

Asbabunnuzul Surat Al-Lail

1. demi malam apabila menutupi (cahaya siang),
2. dan siang apabila terang benderang,
3. dan penciptaan laki-laki dan perempuan,
4. Sesungguhnya usaha kamu memang berbeda-beda.
5. Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa,
6. dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (syurga),
7. Maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah.
8. dan Adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup*
9. serta mendustakan pahala terbaik,
10. Maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar.
11. dan hartanya tidak bermanfaat baginya apabila ia telah binasa.
12. Sesungguhnya kewajiban kamilah memberi petunjuk,
13. dan Sesungguhnya kepunyaan kamilah akhirat dan dunia.
14. Maka, Kami memperingatkan kamu dengan neraka yang menyala-nyala.
15. tidak ada yang masuk ke dalamnya kecuali orang yang paling celaka,
16. yang mendustakan (kebenaran) dan berpaling (dari iman).
17. dan kelak akan dijauhkan orang yang paling takwa dari neraka itu,
18. yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkannya,
19. Padahal tidak ada seseorangpun memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya,
20. tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhaan Tuhannya yang Maha tinggi.
21. dan kelak Dia benar-benar mendapat kepuasan.

*  Yang dimaksud dengan merasa dirinya cukup ialah tidak memerlukan lagi pertolongan Allah dan tidak bertakwa kepada-Nya.


Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa seorang pemilik pohon kurma mempunyai pohon yang mayangnya menjulur ke rumah tetanganya, seorang fakir yang banyak anak. Setiap kali pemilik kurma itu memetik buahnya, ia memetiknya dari rumah tetangganya itu. Apabila ada kurma yang jatuh dan dipungut oleh anak-anak orang fakir itu, ia segera turun dan merampasnya dari tangan anak-anak itu, bahkan yang sudah masuk mulut mereka pun dipaksanya keluar.

Orang fakir itu mengadukan halnya kepada Nabi saw. Beliau berjanji akan menyelesaikannya. Kemudian Rasulullah saw bertemu dengan pemilik kurma itu dan bersabda: “Berikan kepadaku pohon kurma yang mayangnya menjulur ke rumah si anu. Sebagai gantinya kamu akan mendapat pohon kurma di surge.” Si pemilik pohon kurma berkata: “Hanya sekian tawaran tuan? Aku mempunyai banyak pohon kurma, dan pohon kurma yang diminta itu yang paling baik buahnya.” Lalu si pemilik pohon kurma itu pun pergi.

Pembicaraan si pemilik pohon kurma dengan Nabi saw itu terdengan oleh seorang dermawan, yang langsung menghadap Rasulullah saw dan berkata: “Seandainya pohon itu menjadi milikku, apakah tawaran tuan itu berlaku juga bagiku?” Rasulullah saw menjawab : “Ya.” Maka pergilah orang itu menemui pemilik pohon kurma. Si pemilik pohon kurma berkata: “Apakah engkau tau bahwa Muhammad saw menjanjikan pohon kurma di surge sebagai ganti pohon kurma yang mayangnya menjulur ke rumah tetanggaku ? Aku telah mencatat tawaran beliau. Akan tetapi buah pohon kurma itu sangat mengagumkan. Aku banyak mempunyai pohon kurma, tetapi tidak ada satu pohon pun yang selebat itu.” Orang dermawan itu berkata: “Apakah engkau mau menjualnya?” Ia menjawab : “Tidak, kecuali apabila ada orang yang sanggup memenuhi keinginanku, akan tetapi pasti tidak aka nada yang sanggup.” Orang dermawan itu berkata lagi: “Berapa yang engkau inginkan?” Ia berkata : “Aku ingin empat puluh pohon kurma.” Orang dermawan itu terdiam, kemudian berkata lagi : “Engkau minta yang bukan-bukan. Tapi baiklah aku berikan empat puluh pohon kurma padamu, dan aku minta saksi jika engkau benar-benar mau menukarnya.” Iapun memanggil sahabat-sahabatnya untuk menyaksikan penukaran itu.

Orang dermawan itu menghadap Rasulullah saw dan berkata: “Ya Rasulullah, pohon kurma itu telah menjadi milikku. Aku akan menyerahkannya kepada tuan.” Maka berangkatlah Rasulullah saw menemui pemilik rumah yang fakir itu dan bersabda: “Ambillah pohon kurma itu untukmu dan keluargamu.” Maka turunlah ayat ini (al-Lail ayat 1- akhir ayat) yang membedakan kedudukan dan kesudahan orang bakhil dengan orang dermawan.
 (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dll, dari al-Hakam bin Abban, dari ‘Ikrimah, yang bersumber dari ‘Ibnu ‘Abbas. Menurut Ibnu Katsir, hadits ini gharib.)



Sumber: asbabunnuzul, KHQ.Shaleh dkk

Asbabunnuzul Surat Ath-Thooriq

“ Maka hendaklah manusia  memperhatikan  dari apakah dia diciptakan” (Ath-Thooriq:5)

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari ‘Ikrimah bahwa ayat ini turun berkenaan dengan Abul Asad yang berdiri di atas kulit yang sudah disamak, sambil berkata dengan sombong: “Hai golongan Quraisy, barang siapa yang bisa memindahkan aku dari kulit ini, akan aku beri hadiah.” Selanjutnya ia berkata, “Muhammad menganggap bahwa pintu jahanam itu berjumlah Sembilan belas. Aku sendiri sanggup mewakili kalian mengalahkan yang sepuluh, dan kalian mengalahkan yang Sembilan lagi.” Ayat ini turun sebagai sindiran  terhadap perbuatan mereka.


Sumber: Asbabunnuzul, KHQ. Shaleh dkk.

Asbabunnuzul Surat Al-Mutoffifiin

1. kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang*,
2. (yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi,
3. dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi.
(Al-Mutoffifiin: 1-3)

* Yang dimaksud dengan orang-orang yang curang di sini ialah orang-orang yang curang dalam menakar dan menimbang.

Diriwayatkan oleh an-Nasa-I dan Ibnu Majah dengan sanad yang shahih, yang bersumber dari Ibny ‘Abbas bahwa ketika Rasulullah saw sampai ke Madinah, diketahui bahwa orang-orang Madinah termasuk orang-orang yang paling curang dalam menakar dan menimbang. Maka Allah menurunkan ayat-ayat ini sebagai ancaman kepada orang-orang yang curang dalam menimbang dan menakar. Setelah ayat-ayat tersebut turun, orang-orang Madinah menjadi orang-orang yang jujur dalam menimbang dan menakar.


Sumber: asbabunnuzul, KHQ.Shaleh dkk

Asbabunnuzul Surat Al-Infithoor


Hai manusia, Apakah yang telah memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu yang Maha Pemurah.”
(Al-Infithoor: 6)

 Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari ‘Ikrimah bahwa ayat ini turun berkenaan dengan Ubay bin Khalaf yang mengingkari hari ba’ts (dibangkitkan dari kubur). Ayat ini merupakan teguran kepada orang yang tidak percaya kepada ketentuan Allah.


Sumber: asbabunnuzul, KHQ.Shaleh dkk

Asbabunnuzul Surat At-Takwiir



“ 28.(yaitu) bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus.”
29. dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam.”
(At-Takwiir: 28)

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim, yang bersumber dari Sulaiman bin Musa. Diriwayatkan pula oleh Ibnu Abi Hatim dari Baqiyyah bin ‘Amr bin Muhammad, dari Zaid bin Aslam, yang bersumber dari Abu Hurairah. Diriwayatkan pula oleh Ibnul Mundzir dari Sulaiman bin al-Qasim bin Mukhaimarah bahwa ketika turun ayat li man syaa-a mingkum ay yastaqiim ([yaitu] bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus) (At-Takwiir: 28), Abu Jahal berkata: “Kalau demikian, kitalah yang menentukan, apakah mau lurus atau tidak.” Maka Allah menurunkan ayat berikutnya (At-Takwiir: 29) yang membantah anggapan itu, dan menegaskan bahwa Allah-lah yang menentukannya.


Sumber: asbabunnuzul, KHQ.Shaleh dkk

Asbabunnuzul Surat ‘Abasa



1. Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling,
2. karena telah datang seorang buta kepadanya*.
3. tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa),
4. atau Dia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya?
5. Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup*,
6. Maka kamu melayaninya.
7. Padahal tidak ada (celaan) atasmu kalau Dia tidak membersihkan diri (beriman).
8. dan Adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatkan pengajaran),
9. sedang ia takut kepada (Allah),
10. Maka kamu mengabaikannya.
(‘Abasa: 1-10)

*     Orang buta itu bernama Abdullah bin Ummi Maktum. Dia datang kepada Rasulullah s.a.w. meminta ajaran-ajaran tentang Islam; lalu Rasulullah s.a.w. bermuka masam dan berpaling daripadanya, karena beliau sedang menghadapi pembesar Quraisy dengan pengharapan agar pembesar-pembesar tersebut mau masuk Islam. Maka turunlah surat ini sebagi teguran kepada Rasulullah s.a.w.
**   Yaitu pembesar-pembesar Quraisy yang sedang dihadapi Rasulullah s.a.w. yang diharapkannya dapat masuk Islam.


Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan al-Hakim, yang bersumber dari ‘Aisyah. Diriwayatkan pula oleh Abu Ya’la yang bersumber dari Anas bahwa Firman Allah. ‘Abasa wa tawallaa (Dia [Muhammad] bermuka masam dan berpaling0 turun berkenaan dengan Ibnu Ummi Maktum, seorang buta yang datang kepada Nabi Muhammad saw seraya berkata: “Berilah aku petunjuk yang Rasulullah.” Pada waktu itu Rasulullah saw sedang menghadapi para embesar kaum musyrikin Quraisy. Beliau berpaling dari Ibnu Ummi Maktum dan tetap menghadapi pembesar-pembesar Quraisy. Ibnu Ummi Maktum berkata: “Apakah yang saya katakana ini mengganggu tuan ?” Rasulullah saw menjawab: “Tidak.” Ayat-ayat ini (‘Abasa: 1-10) turun sebagai teguran atas perbuatan Rasulullah saw itu.

17. binasalah manusia; Alangkah Amat sangat kekafirannya?
(‘Abasa: 17)

Diriwayatkan oleh Ibnu Mundzir yang bersumber dari ‘Ikrimah bahwa ayat ini (‘Abasa:17) turun berkenaan dengan ‘Utbah bin Abi Lahab yang berkata: “Aku kufur kepada Rabb bintang.” Ayat ini menegaskan bahwa manusia akan celaka karena kekufurannya.


Sumber: asbabunnuzul, KHQ.Shaleh dkk

Asbabunnuzul Surat An-Naazi’aat

 10. (orang-orang kafir) berkata: "Apakah Sesungguhnya Kami benar-benar dikembalikan kepada kehidupan semula*?
11. Apakah (akan dibangkitkan juga) apabila Kami telah menjadi tulang belulang yang hancur lumat?"
12. mereka berkata: "Kalau demikian, itu adalah suatu pengembalian yang merugikan".
(an-Naazi’aat: 10-12)

* Setelah orang-orang kafir mendengar adanya hari kebangkitan sesudah mati mereka merasa heran dan mengejek sebab menurut keyakinan mereka tidak ada hari kebangkitan itu. Itulah sebabnya mereka bertanya demikian itu.

Diriwayatkan oleh Sa’id bin Manshur yang bersumber dari Muhammad bin Ka’ab bahwa ketika turun Firman Alla a innaa la marduuduuna fil haafiroh (…. Apakah sesungguhnya kami benar-benar dikembalikan kepada kehidupan yang semula ?) (an-Naazi’aat: 10) sebagai keterangan kepada Rasulullah, dan terdengar oleh kaum kafir Quraisy, mereka berkata: “Kalau kita dihidupkan kembali sesudah mati, tentu kita akan rugi.” Maka turunlah ayat berikutnya (an-Naazi’aat: 12) sebagai keterangan dari Allah kepada Rasul-Nya tentang ucapan kaum kafir Quraisy itu.

42. (orang-orang kafir) bertanya kepadamu (Muhammad) tentang hari kebangkitan, kapankah terjadinya?**
43. siapakah kamu (maka) dapat menyebutkan (waktunya)?
44. kepada Tuhanmulah dikembalikan kesudahannya (ketentuan waktunya).
45. kamu hanyalah pemberi peringatan bagi siapa yang takut kepadanya (hari berbangkit)
46. pada hari mereka melihat hari berbangkit itu, mereka merasa seakan-akan tidak tinggal (di dunia) melainkan (sebentar saja) di waktu sore atau pagi hari**.
(an-Naazi’aat: 42-46)

**   Kata-kata ini mereka ucapkan adalah sebagai ejekan saja, bukan karena mereka percaya  akan hari berbangkit.
*** Karena hebatnya suasana hari berbangkit itu mereka merasa bahwa hidup di dunia adalah sebentar saja.

Diriwayatkan oleh al-Hakim dan Ibnu Jarir, yang bersumber dari ‘Aisyah bahwa ayat-ayat ini (an-Naazi’aat: 42-44) turun sebagai penegasan bahwa hanya Allah yang mengetahui waktunya.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dari Juwaibir, dari adl-Dlahhak, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa kaum musyrikin Mekah bertanya dengan sinis kepada Rasulullah saw: “Kapan terjadinya kiamat?” Allah menurunkan  ayat-ayat ini (an-Naazi’aat: 42-46) yang menegaskan bahwa hanya Allah Yang Maha Mengetahui waktunya.

Diriwayatkan oleh ath-Thabarani dan Ibnu Jarir, yang bersumber dari Thariq bin Syihab. Diriwayatkan pula oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dar ‘Urwah bahwa Rasulullah saw sering menyebut-nyebut kiamat. Maka turunlah ayat-ayat ini (an-Naazi’aat: 43-44) sebagai perintah untuk menyerahkan persoalannya kepada Allah swt.


Sumber: asbabunnuzul, KHQ.Shaleh dkk

Asbabunnuzul Surat An-Naba’

1. tentang Apakah mereka saling bertanya-tanya?
2. tentang berita yang besar*,
(An-Naba’ : 1-2)

* Yang dimaksud dengan berita yang besar ialah berita tentang hari berbangkit.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim, yang bersumber dari al-Hasan bahwa ketika Nabi Muhammad saw diutus sebagai Rasul, orang-orang saling bertanya tentang berita yang dibawa Rasul (kiamat). Ayat ini (An-Naba’: 1-2) turun berkenaan dengan peristiwa tersebut.

Sumber: Asbabunnuzul, KHQ. Shaleh dkk.

Asbabunnuzul Surat Al-Mursalaat

48. dan apabila dikatakan kepada mereka: "Rukuklah, niscaya mereka tidak mau ruku'*.
(Al-Mursalaat: 48)

* Sebagian ahli tafsir mengatakan, bahwa yang dimaksud dengan rukuk di sini ialah tunduk kepada perintah Allah; sebagian yang lainnya mengatakan, Maksudnya ialah shalat.

Diriwayatkan oleh Ibnu Mundzir yang bersumber dari Mujahid bahwa Firman Allah, wa idzaa qiila lahumurka’uu laa yarka’uun (dan apabila dikatakan kepada mereka: "Rukuklah, niscaya mereka tidak mau ruku') (Al-Mursalaat: 48) turun berkenaan dengan suku Tsaqif yang tidak mau rukuk (shalat)


Sumber: Asbabunnuzul, KHQ. Shaleh dkk.

Asbabunnuzul Surat Al-Insaan

8. dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan.
(Al-Insaan: 8)

Diriwayatkan oleh Ibnu Mundzir yang bersumber dari Ibnu Jarir bahwa kata asiiron (orang yang ditawan) dalam surat Al-Insan ayat 8 ialah tawanan kaum musyrikin yang disiksa, karena Rasulullah saw tidak mungkin punya tawanan kaum Muslimin. Ayat ini (al-Insan:8) turun sebagai perintah kepada kaum Muslimin agar memperlakukan tawanan dengan baik dan member makanan yang disukainya.

20. dan apabila kamu melihat di sana (surga), niscaya kamu akan melihat berbagai macam kenikmatan dan kerajaan yang besar.
(Al-Insaan: 20)

Diriwayatkan oleh Ibnu Mundzir yang bersumber dari ‘Ikrimah bahwa ketika Umar bin al-Khaththab menghadap Rasulullah saw, kebetulan beliau sedang tidur di atas tikar pelepah kurma, sehingga bekasnya pun kelihatan pada badan beliau. ‘Umar menangis melihat keadaan itu. Beliau bersabda: “Mengapa engkau menangis ?” ‘Umar menjawab: “Tuan telah menceritakan kemegahan Kisra (Persia) dan kerajaannya, Hurmuz dan kerajaannya, serta raja Habasyah dan kerajaannya. Sementara tuan sendiri, ya Rasulullah, tidur di atas tikar pelepah kurma.” Rasulullah bersabda: “Apakah engkau tidak ridha, dunia bagi mereka dan akhirat bagi kita ?” Allah menurunkan ayat ini (al-Insaan:20) berkenaan dengan peristiwa tersebut, yang menjanjikan kenikmatan di hari akhir.

24. Maka bersabarlah kamu untuk (melaksanakan) ketetapan Tuhanmu, dan janganlah kamu ikuti orang yang berdosa dan orang yang kafir di antar mereka.
(Al-Insaan: 24)

Diriwayatkan oleh ‘Abdurrazzaq, Ibnu Jarir, dan Ibnul Mundzir yang bersumber dari Qatadah bahwa Qatadah menerima kabar tentang Abu Jahl yang berkata: “Jika aku melihat Muhammad sedang sholat, aku akan menginjak tengkuknya.” Berkenaan dengan peristiwa tersebut, Allah menurunkan ayat ini (Al-Insaan: 24) sebagai peringatan agar tidak mengindahkan apa yang diucapkan orang kafir.


Sumber: Asbabunnuzul, KHQ. Shaleh dkk.

Asbabunnuzul Surat Al-Qiyaamah

16. janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) Al Quran karena hendak cepat-cepat (menguasai)nya.
(al-Qiyaamah: 16)

* Maksudnya: Nabi Muhammad s.a.w. dilarang oleh Allah menirukan bacaan Jibril a.s. kalimat demi kalimat, sebelum Jibril a.s. selesai membacakannya, agar dapat Nabi Muhammad s.a.w. menghafal dan memahami betul-betul ayat yang diturunkan itu.

Diriwayatkan oleh al-Bukhari yang bersumber dari Ibny ‘Abbas bahwa apabila turun wahyu kepada Rasulullah saw, beliau menggerak-gerakkan lidahnya karena ingin cepat hafal. Maka Allah menurunkan ayat ini (al-Qiyaamah: 16) sebagai petunjuk dalam menerima Ajaran Allah.

34. kecelakaanlah bagimu (hai orang kafir) dan kecelakaanlah bagimu,
35. kemudian kecelakaanlah bagimu (hai orang kafir) dan kecelakaanlah bagimu**.
(al-Qiyaamah: 34-35)

** Kutukan terhadap orang kafir ini diulang-ulang sampai empat kali: pertama di saat ia akan mati, kedua ketika ia dalam kubur, ketiga pada waktu hari berbangkit dan keempat dalam neraka Jahannam.


Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari al-‘Aufi yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa ketika turun ayat ‘alaihaa tis’ata ‘asyar (di atasnya ada Sembilan belas [malaikat penjaga]) (al-Mudatstsir: 30), Abu Jahl berkata kepada kaum Quraisy:”Mengapa kalian murung mendengar ucapan Ibu Abi Kabsyah (Muhammad) bahwa penjaga neraka itu Sembilan belas, padahal kalian berjumlah banyak. Apakah sepuluh orang dari kalian tidak akan mampu mengalahkan seorang penjaga jahanam itu?” Maka Allah mewahyukan kepada Rasul-Nya agar datang dan berkata kepada Abu Jahl : aulaa laka fa aulaa, tsumma aulaa laka fa aulaa ( kecelakaanlah bagimu (hai orang kafir) dan kecelakaanlah bagimu,) (al-Qiyaamah: 34-35) sebagai peringatan bahwa kehancuran kekuasaannya telah mendekat.

Diriwayatkan oleh an-Nasa-I yang bersumber dari Sa’id bin Jubair bahwa Sa’id bin Jubair bertanya kepada Ibnu ‘Abbas tentang Firman Allah, aulaa laka fa aulaa, ( kecelakaanlah bagimu (hai orang kafir) (al-Qiyaamah: 34), apakah hanya ucapan Rasulullah sendiri atau perintah dari Allah swt ? Ibnu ‘Abbas menjawab: “Beliau bersabda dari dirinya sendiri, kemudian Allah menurunkan ayat tersebut (al-Qiyaamah: 34).


Sumber: Asbabunnuzul, KHQ. Shaleh dkk.

Asbabunnuzul Surat Al-Muddatstsir


1. Hai orang yang berkemul (berselimut),
2. bangunlah, lalu berilah peringatan!
3. dan Tuhanmu agungkanlah!
4. dan pakaianmu bersihkanlah,
5. dan perbuatan dosa tinggalkanlah,
6. dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak.
7. dan untuk (memenuhi perintah) Tuhanmu, bersabarlah.
(Al-Muddatstsir: 1-7)

Diriwayatkan oleh asy-Syaikhoon (al-Bukhori dan Muslim) yang bersumber dari Jabir bahwa Rasulullah saw bersabda: “Ketika aku telah selesai uzlah-selama sebulan di gua Hira-, aku turun ke lembah. Sesampainya ke tengah lembah, ada yang memanggilku, tetapi aku tidak melihat seorangpun di sana. Aku menengadahkan kepala ke langit. Tiba-tiba aku melihat malaikat yang pernah mendatangiku di Gua Hira. Aku cepat-cepat pulang dan berkata (kepada orang rumah): “Selimuti aku ! Selimuti aku !” Maka turunlah ayat ini (Al-Muddatstsir: 1-2) sebagai perintah untuk menyingsingkan selimut dan berdakwah.

Diriwayatkan ole hath-Thabarani dengan sanad yang daif, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa al-Walid bin al-Mughirah membuat makanan untuk kaum Quraisy. Ketika mereka makan-makan, al Walid berkata kepada teman-temannya: “Nama apa yang pantas kalian berikan kepada orang seperti ini (Muhammad) ?” sebagian mereka berkata “Saahir (tukang sihir).” Yang lainnya berkata: “Dia bukan tukang sihir.” Sebagian mereka berkata :”Kaahin (tukang tenung)” Yang lainnya berkata : “Dia bukan tukang tenung.” Sebagian mereka berkata: “Syaa’ir (tukang syair).” Yang lainnya berkata: “Dia bukan tukang syair.” Yang lainnya berkata lagi: “Dia mempunyai sihir yang membekas (kepada orang lain).” Semua pembicaraan itu sampai kepada Nabi saw sehingga beliaupun merasa sedih. Beliau mengikat kepalanya serta berselimut. Maka Allah menurunkan ayat-ayat ini (Al-Muddatstsir: 1-7) sebagai perintah untuk menyingsingkan baju dan berdakwah.

11. biarkanlah aku bertindak terhadap orang yang aku telah menciptakannya sendirian*.
(Al-Muddatstsir: 11)

* Ayat ini dan beberapa ayat berikutnya diturunkan mengenai seorang kafir Mekah, pemimpin Quraisy bernama Al Walid bin Mughirah.

Diriwayatkan oleh al-Hakim dan disahihkannya, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas. Sanad hadits ini sahih menurut syarat al-Bukhari. Diriwayatkan pula oleh Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim bahwa al-Walid bin al-Mughirah datang kepada Nabi saw. Kemudian beliau membaca al-Qur’an kepadanya sehingga ia pun tertarik. Kejadian ini sampai kepada Abu Jahl,sehingga ia sengaja datang kepada al-Walid sambil berkataa: "Hai Paman ! Sesungguhnya kaummu akan mengumpulkan harta untuk diberikan kepadamu dengan maksud agar engkau mengganggu Huhammad." Al-Walid berkata: "Bukankah kaum Quraisy telah mengetahui bahwa aku yang paling kaya di antara mereka ?" Selanjutnya Abu Jahl berkata: "Kalau demikian ucapkanlah sebuah perkataan yang menunjukkan bahwa engkau ingkar dan benci kepadanya (Muhammad)." Al-Walid berkata: "Apa yang harus aku katakan ? Demi Allah tidak ada seorangpun di antara kalian yang lebih tinggi syairnya, sajaknya, ataupun kasidahnya daripada gubahanku, bahkan syair-syair jin pun tidak ada yang mengungguli aku. Demi Allah, sepanjang yang aku ketahui, tidak ada yang menyerupai ucapan Muhammad sedikitpun. Demi Allah, ucapannya manis, bagus, indah,gemilang dan cemerlang. Ucapannya tinggi, tak ada yang lebih tinggi daripadanya." Abu Jahl berkata: "Kaummu tidak akan senang sebelum engkau menunjukkan kebencianmu kepada Muhammad." Al-Walid berkata: "Baiklah aku akan berfikir dahulu." Setelah berfikir diapun berkata: "Benar, ucapan Muhammad itu hanyalah sihir yang berkesan, yang memberi bekas kepada yang lainnya." Maka turunlah ayat ini (Al-Muddatstsir: 11) sebagai ancaman kepada orang-orang yang mendustakan beliau.

30. dan di atasnya ada sembilan belas (Malaikat penjaga).
31. dan tiada Kami jadikan penjaga neraka itu melainkan dari Malaikat: dan tidaklah Kami menjadikan bilangan mereka itu melainkan untuk Jadi cobaan bagi orang-orang kafir, supaya orang-orang yang diberi Al-Kitab menjadi yakin dan supaya orang yang beriman bertambah imannya dan supaya orang-orang yang diberi Al kitab dan orng-orang mukmin itu tidak ragu-ragu dan supaya orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan orang-orang kafir (mengatakan): "Apakah yang dikehendaki Allah dengan bilangan ini sebagai suatu perumpamaan?" Demikianlah Allah membiarkan sesat orang-orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya. dan tidak ada yang mengetahui tentara Tuhanmu melainkan Dia sendiri. dan Saqar itu tiada lain hanyalah peringatan bagi manusia.
(Al-Muddatstsir: 30-31)

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dan al-Baihaqi di dalam kitab al-Ba’ts, yang bersumber dari al-Barra’ bahwa segolongan kaum yahudi bertanya kepada seorang sahabat Nabi saw tentang penjaga neraka. Shahabat itupun bertanya kepada Rasulullah saw. Maka turunlah ayat ini (Al-Muddatstsir: 30) seketika itu juga, yang menegaskan bahwa penjaganya ada Sembilan belas malaikat.

Diriwayatkan oleh Ibnu Hatim yang bersumber dari Ibnu Ishaq, diriwayatkan pula oleh Abi Hatim yang bersumber dari Qatadah bahwa suatuhari Abu Jahl berkata: “Wahai golongan Quraisy. Muhammad mengatakan bahwa tentara Allah yang akan menyiksa kalian di neraka berjumlah Sembilan belas, padahal kalian jauh lebih banyak jumlahnya. Apakah seratus orang dari kalian tidak mampu mengalahkan satu dari mereka ?” Maka turunlah ayat ini (Al-Muddatstsir: 31), yang menegaskan bahwa penjaga neraka itu bukanlah manusia, tetapi malaikat, sedang jumlah nya hanya sebagai ujian atas keimanan mereka.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari as-Suddi bahwa setelah turun ayat, ‘alaihaa tis’ata ‘asyar (di atasnya ada Sembilan belas [malaikat penjaga[)(Al-Muddatstsir: 30), seorang Quraisy yang bernama Abu Asad berkata: “Wahai kaum Quraisy. Janganlah kalian takut kepada yang Sembilan belas itu. Aku sendiri akan melawan sepuluh dari pundakku yang kanan dan Sembilan dengan pundakku yang kiri.” Maka turunlah ayat selanjutnya (Al-Muddatstsir: 31) yang menegaskan bahwa penjaga neraka itu adalah malaikat.

52. bahkan tiap-tiap orang dari mereka berkehendak supaya diberikan kepadanya lembaran-lembaran yang terbuka.
53. sekali-kali tidak. sebenarnya mereka tidak takut kepada negeri akhirat.
(Al-Muddatstsir: 52-53)

Diriwayatkan oleh Ibnul Mundzir yang bersumber dari as-Suddi bahwa kaum Quraisy berkata: “Sekiranya Muhammad itu seorang yang jujur, cobalah ia membuat surat jaminan bagi setiap orang, yang menerangkan bahwa mereka bebas dan selamat dari neraka.” Maka turunlah ayat ini (Al-Muddatstsir: 52-53) berkenaan dengan peristiwa tersebut.



Sumber: Asbabunnuzul, KHQ. Shaleh dkk.