1. Hai orang yang berkemul (berselimut),
2. bangunlah, lalu berilah peringatan!
3. dan Tuhanmu agungkanlah!
4. dan pakaianmu bersihkanlah,
5. dan perbuatan dosa tinggalkanlah,
6. dan janganlah kamu memberi (dengan maksud)
memperoleh (balasan) yang lebih banyak.
7. dan untuk (memenuhi perintah) Tuhanmu,
bersabarlah.
(Al-Muddatstsir: 1-7)
Diriwayatkan oleh asy-Syaikhoon (al-Bukhori dan
Muslim) yang bersumber dari Jabir bahwa Rasulullah saw bersabda: “Ketika aku
telah selesai uzlah-selama sebulan di gua Hira-, aku turun ke lembah.
Sesampainya ke tengah lembah, ada yang memanggilku, tetapi aku tidak melihat
seorangpun di sana. Aku menengadahkan kepala ke langit. Tiba-tiba aku melihat
malaikat yang pernah mendatangiku di Gua Hira. Aku cepat-cepat pulang dan
berkata (kepada orang rumah): “Selimuti aku ! Selimuti aku !” Maka turunlah
ayat ini (Al-Muddatstsir: 1-2) sebagai perintah untuk menyingsingkan selimut
dan berdakwah.
Diriwayatkan ole hath-Thabarani dengan sanad
yang daif, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa al-Walid bin al-Mughirah
membuat makanan untuk kaum Quraisy. Ketika mereka makan-makan, al Walid berkata
kepada teman-temannya: “Nama apa yang pantas kalian berikan kepada orang
seperti ini (Muhammad) ?” sebagian mereka berkata “Saahir (tukang sihir).” Yang
lainnya berkata: “Dia bukan tukang sihir.” Sebagian mereka berkata :”Kaahin
(tukang tenung)” Yang lainnya berkata : “Dia bukan tukang tenung.” Sebagian
mereka berkata: “Syaa’ir (tukang syair).” Yang lainnya berkata: “Dia bukan
tukang syair.” Yang lainnya berkata lagi: “Dia mempunyai sihir yang membekas
(kepada orang lain).” Semua pembicaraan itu sampai kepada Nabi saw sehingga
beliaupun merasa sedih. Beliau mengikat kepalanya serta berselimut. Maka Allah
menurunkan ayat-ayat ini (Al-Muddatstsir: 1-7) sebagai perintah untuk
menyingsingkan baju dan berdakwah.
11. biarkanlah aku bertindak terhadap orang
yang aku telah menciptakannya sendirian*.
(Al-Muddatstsir: 11)
* Ayat ini dan beberapa ayat berikutnya
diturunkan mengenai seorang kafir Mekah, pemimpin Quraisy bernama Al Walid bin
Mughirah.
Diriwayatkan oleh al-Hakim dan disahihkannya,
yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas. Sanad hadits ini sahih menurut syarat
al-Bukhari. Diriwayatkan pula oleh Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim bahwa al-Walid
bin al-Mughirah datang kepada Nabi saw. Kemudian beliau membaca al-Qur’an
kepadanya sehingga ia pun tertarik. Kejadian ini sampai kepada Abu
Jahl,sehingga ia sengaja datang kepada al-Walid sambil berkataa: "Hai
Paman ! Sesungguhnya kaummu akan mengumpulkan harta untuk diberikan kepadamu
dengan maksud agar engkau mengganggu Huhammad." Al-Walid berkata:
"Bukankah kaum Quraisy telah mengetahui bahwa aku yang paling kaya di
antara mereka ?" Selanjutnya Abu Jahl berkata: "Kalau demikian
ucapkanlah sebuah perkataan yang menunjukkan bahwa engkau ingkar dan benci
kepadanya (Muhammad)." Al-Walid berkata: "Apa yang harus aku katakan
? Demi Allah tidak ada seorangpun di antara kalian yang lebih tinggi syairnya,
sajaknya, ataupun kasidahnya daripada gubahanku, bahkan syair-syair jin pun
tidak ada yang mengungguli aku. Demi Allah, sepanjang yang aku ketahui, tidak
ada yang menyerupai ucapan Muhammad sedikitpun. Demi Allah, ucapannya manis,
bagus, indah,gemilang dan cemerlang. Ucapannya tinggi, tak ada yang lebih
tinggi daripadanya." Abu Jahl berkata: "Kaummu tidak akan senang
sebelum engkau menunjukkan kebencianmu kepada Muhammad." Al-Walid berkata:
"Baiklah aku akan berfikir dahulu." Setelah berfikir diapun berkata:
"Benar, ucapan Muhammad itu hanyalah sihir yang berkesan, yang memberi
bekas kepada yang lainnya." Maka turunlah ayat ini (Al-Muddatstsir: 11)
sebagai ancaman kepada orang-orang yang mendustakan beliau.
30. dan di atasnya ada sembilan belas (Malaikat
penjaga).
31. dan tiada Kami jadikan penjaga neraka itu
melainkan dari Malaikat: dan tidaklah Kami menjadikan bilangan mereka itu
melainkan untuk Jadi cobaan bagi orang-orang kafir, supaya orang-orang yang
diberi Al-Kitab menjadi yakin dan supaya orang yang beriman bertambah imannya
dan supaya orang-orang yang diberi Al kitab dan orng-orang mukmin itu tidak
ragu-ragu dan supaya orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan
orang-orang kafir (mengatakan): "Apakah yang dikehendaki Allah dengan
bilangan ini sebagai suatu perumpamaan?" Demikianlah Allah membiarkan
sesat orang-orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang
dikehendaki-Nya. dan tidak ada yang mengetahui tentara Tuhanmu melainkan Dia
sendiri. dan Saqar itu tiada lain hanyalah peringatan bagi manusia.
(Al-Muddatstsir: 30-31)
Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dan al-Baihaqi
di dalam kitab al-Ba’ts, yang bersumber dari al-Barra’ bahwa segolongan kaum
yahudi bertanya kepada seorang sahabat Nabi saw tentang penjaga neraka.
Shahabat itupun bertanya kepada Rasulullah saw. Maka turunlah ayat ini
(Al-Muddatstsir: 30) seketika itu juga, yang menegaskan bahwa penjaganya ada
Sembilan belas malaikat.
Diriwayatkan oleh Ibnu Hatim yang bersumber
dari Ibnu Ishaq, diriwayatkan pula oleh Abi Hatim yang bersumber dari Qatadah
bahwa suatuhari Abu Jahl berkata: “Wahai golongan Quraisy. Muhammad mengatakan
bahwa tentara Allah yang akan menyiksa kalian di neraka berjumlah Sembilan
belas, padahal kalian jauh lebih banyak jumlahnya. Apakah seratus orang dari
kalian tidak mampu mengalahkan satu dari mereka ?” Maka turunlah ayat ini (Al-Muddatstsir:
31), yang menegaskan bahwa penjaga neraka itu bukanlah manusia, tetapi
malaikat, sedang jumlah nya hanya sebagai ujian atas keimanan mereka.
Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber
dari as-Suddi bahwa setelah turun ayat, ‘alaihaa tis’ata ‘asyar (di atasnya ada
Sembilan belas [malaikat penjaga[)(Al-Muddatstsir: 30), seorang Quraisy yang
bernama Abu Asad berkata: “Wahai kaum Quraisy. Janganlah kalian takut kepada
yang Sembilan belas itu. Aku sendiri akan melawan sepuluh dari pundakku yang
kanan dan Sembilan dengan pundakku yang kiri.” Maka turunlah ayat selanjutnya
(Al-Muddatstsir: 31) yang menegaskan bahwa penjaga neraka itu adalah malaikat.
52. bahkan
tiap-tiap orang dari mereka berkehendak supaya diberikan kepadanya
lembaran-lembaran yang terbuka.
53. sekali-kali
tidak. sebenarnya mereka tidak takut kepada negeri akhirat.
(Al-Muddatstsir: 52-53)
Diriwayatkan oleh Ibnul Mundzir yang bersumber
dari as-Suddi bahwa kaum Quraisy berkata: “Sekiranya Muhammad itu seorang yang
jujur, cobalah ia membuat surat jaminan bagi setiap orang, yang menerangkan
bahwa mereka bebas dan selamat dari neraka.” Maka turunlah ayat ini
(Al-Muddatstsir: 52-53) berkenaan dengan peristiwa tersebut.
Sumber:
Asbabunnuzul, KHQ. Shaleh dkk.
No comments:
Post a Comment