Tidak seorangpun menyanggah kenyataan- kecuali kalau benar tidak mengenal pola berpikir kaum Yahudi (periksa protocol zionisme)- bahwa anasir yang merusak, baik di bidang ekonomi maupun social di dunia sekarang ini, bukan saja diawaki, tetapi juga didanai oleh dan untuk kepentingan kaum Yahudi.
Kenyataan ini cukup lama dipendam saja oleh public, disebabkan oleh sanggahan yang keras dari kalangan kaum Yahudi, seperti dari the Jewish Anti-Defamation League, serta kurangnya informasi tentang hal itu. Kini semua itu dimana-mana telah menjadi kenyataan.
Beberapa waktu setelah kongres zionisme internasional ke-1 di Basel (1897) itu kecenderungan politik kaum Yahudi bekerja ke dua arah, yang satu dilakukan secara diam-diam ditujukan untuk menghancurkan dan menguasai Negara-negara non-Yahudi di seluruh dunia, yang lain lagi untuk membentuk sebuah Negara Yahudi di Palestina. Berbeda dengan proyek yang pertama, proyek yang kedua dilakukan dengan meminta perhatian dan melibatkan dukungan dari seluruh dunia. Untuk kepentingan itu kaum zionis dengan cerdik hanya meributkan soal Palestina dan persoalan itu tidak ditengarai sebagai cencana kolonialisasi yang ambisius yang tidak biasa. Gagasan tentang “Tanah Air” bagi orang Yahudi begitu cerdiknya disemai, sehingga menjadi tabir asap yang efektif untuk merampas tanah milik bangsa Arab-Palestina. Agenda mengenai Palestina digunakan juga untuk menipu public menutupi berbagai kegiatan rahasia yang mereka jalankan.
Masyarakat Yahudi internasional, pemegang teraju pemerintahan Negara-negaraq di belakang layar dan penguasa keuangan dunia, bertemu dimana saja, kapan saja, baik di masa perang maupun damai, dan bila ditanya mereka menjelaskan pertemuan-pertemuan itu hanya memperbincangkan bagaimana cara dan sarananya untuk membuka tanah Palestina bagi orang Yahudi, dan mereka dengan cerdik menghindar dari kecurigaan orang berkumpul-kumpul untuk membicarakan persoalan lain-lain.
Meskipun nasionalisme Yahudi itu ada, tetapi perwujudannya ke dalam suatu Negara Yahudi di Palestina bukanlah merupakan proyek yang melibatkan segenap orang Yahudi. Adalah kenyataan bahwa pada awalnya orang Yahudi tidak seluruhnya sepakat pindah ke Palestina. Keengganan itu bukan semata-mata karena tidak setuju dengan gerakan zionisme, meskipun ideology zionisme sebagai motif pendorong memang menjadi penyebab exodusnya mereka dari negeri-negeri Kristen bila saat untuk itu benar-benar telah tiba.
Public dunia sudah lama mencurigai-mula-mula hanya oleh beberapa gelintir orang, kemudian mulai menarik perhatian dinas-dinas intelijen pemerintah, lalu kalangan para intelektual, akhirnya masyarakat luas- bahwa kaum Yahudi itu adalah suatu masyarakat yang ternyata berbeda dengan bangsa-bangsa yang lain di dunia, dan anehnya, mereka tidak dapat menyembunyikan identitas mereka dengan cara apapun, bahwa mereka selalu membentuk suatu “Negara” di dalam Negara, dimanapun mereka berada. Mereka sangat sadar sebagai suatu bangsa, tetapi bukan itu saja, mereka sangat sadar perlunya bersatu membentuk pertahanan bersama untuk mencapai suatu tujuan bersama.
sumber: zionisme: gerakan penaklukan dunia, ZA Maulani
No comments:
Post a Comment