Wednesday, 5 December 2012

PROGRAM POLITIK KAUM YAHUDI

Theodore Herzl dengan jernih melihat apa yang disebutnya sebagai ‘masalah Yahudi’ sebagai suatu masalah politik. Dalam kata pengantar bukunya itu, ia berkata,
“Saya percaya, bahwa saya memahami anti-semitisme, yang sesungguhnya merupakan gerakan yang sangat kompleks. Saya mempertimbangkannya dari sudut pandang orang Yahudi, tanpa rasa takut maupun benci. Saya percaya anasir apa yang saya lihat di dalamnya yang merupakan permainan yang jorok, sikap iri yang lazim, warisan prasangka, intoleransi keagamaan, dan juga potensi mempertahankan  nilai-nilai. Saya rasa ‘masalah Yahudi’ lebih banyak berbau social ketimbang keagamaan, meskipun saya tidak menafikan kadangkala hal itu muncul dalam bentuknya yang beragam. Masalah itu hakekatnya adalah masalah nasional yang hanya mungkin diselesaikan dengan membuatnya masalah dunia politik  yang dapat didiskusikan dan dikendalikan oleh bangsa-bangsa  dunia beradab di suatu majelis.”
Theodore Herzl tidak hanya menyatakan bahwa kaum Yahudi harus membentuk suatu bangsa, tetapi  dalam menghubungkan tindakan bangsa  Yahudi ini kepada dunia, Herzl menulis:
“Bila kita tenggelam, kita akan menjadi suatu klas proletariat revolusioner, pemanggul idea dari suatu partai revolusioner; bila kita bangkit, dipastikan akan bangkit pula kekuasaan keuangan kita yang dahsyat,”
Pandangan ini yang nampaknya pandangan yang sejati, merupakan pandangan yang telah lama terpendam di dalam benak kaum Yahudi, yan                   juga dikemukakan oleh Lord Eustace Percy, dan diterbitkan ulang, agaknya dengan persetujuan ‘Jewish Chronicle’ Kanada, yang untuk membacanya butuh kehati-hatian:
“Liberalisme dan nasionalisme dengan hingar binger membukakan pintu ghetto dan menawarkan kawarga-negaraan dengan kedudukan yang sejajar kepada kaum Yahudi. Kaum Yahudi memasuki dunia barat, menyaksikan kekuasaan dan kejayaannya, memanfaatkan dan menikmatinya, turut serta membangung di pusat peradabannya, memimpin, mengarahkan dan mengekploitasinya-namun kemudian menolak tawaran itu. Lagipula-hal ini sesuatu yang menarik-nasionalisme dan liberalisme Eropa, pemerintahan dan persamaan dalam demokrasi menjadi semakin tidak tertanggungkan olehnya dibandingkan dengan penindasan dan kedzaliman despotism sebelumnya,”
“Di suatu dunia dengan yuridisdiksi kedaulatan Negara yang dibatasi dengan jelas oleh batas-batas wilayah territorial Negara yang sepenuhnya disepakati secara internasional, (orang Yahudi) tinggal memiliki dua pilihan yang membuka kemungkinan baginya untuk memperoleh perlindungan: pertama, atau ia harus meruntuhkan pilar-pilar system Negara nasional  yang ada secara keseluruhan; kedua, atau ia harus menciptakan sendiri suatu wilayah territorial yang seluruhnya berada dalam genggaman yurisdiksi kedaulatannya. Mungkin disini terletak penjelasan tentang hubungan Bolshevisme (bahasa rusia: minoritas) Yahudi dan Zionisme, karena dewasa ini kaum Yahudi di Timur tampaknya terombang-ambing memilih di antara keduanya. Di Eropa Timur Bolshevisme dan zionisme sering terlihat tumbuh bersamaan, persis seperti peran kaum Yahudi dalam membentuk pemikiran tentang ‘republikeinisme’ dan ‘sosialisme’ sepanjang abad ke Sembilan belas sampai kepada revolusi Turki Muda di Istambul yang belum lewat satu dasawarsa yang lalu. Semuanya berlangsung bukan karena kaum Yahudi mempedulikan sisi positif dari falsafah-falsafah radikal itu, bukan karena ingin menjadi peserta dari nasionalisme atau demokrasinya kaum Yahudi, tetapi ‘karena tidak ada system pemerintahan yang ada pada kaum non-Yahudi, yang benar-benar memiliki makna bagi orang Yahudi, karena yang ada hanya menimbulkan kemuakan baginya.”
Para pemikir Yahudi, semuanya tanpa kecuali, memandang apa yang ada pada kaum non-Yahudi seperti itu. Orang Yahudi selalu bersikap bertentangan dengan skema kaum non-Yahudi dalam segala hal. Kalau sekiranya kepada orang Yahudi diberikan kebebasan penuh untuk memilih, dapat dipastikan ia akan memilih menjadi  seorang republikein yang anti kerajaan, seorang sosialis yang anti republic, atau seorang Boshevis yang anti sosialis.
Apa yang menjadi penyebab sikap yang nyeleneh ini ? pertama, kekurang mampuan orang Yahudi dalam memahami demokrasi. Watak orang Yahudi yang dipengaruhi oleh budaya dan agamanya cenderung otoriter. Demokrasi barangkali baik bagi orang lain, tetapi bagi orang Yahudi di manapun ia berada akan mendirikan suatu masyarakat aristokrasi atau sejenisnya (periksa tentang: ajaran Qabala). Demokrasi bagi orang Yahudi hanya dijadikan sebagai alat , sekedar sebuah kata, yang digunakan oleh para juru bicara Yahudi sekedar sebagai mekanisme pelindung kelompok, di tempat-tempat dimana mereka ditindas, serta untuk mendapatkan status persamaan. Begitu telah mendapat status persamaan, mereka segera berusaha mendapatkan privilese, hak-hak istimewa, yang seolah-olah telah menjadi hak mereka- seperti pada ‘konperensi Perdamaian’ Versailles 1918- menjadi contoh yang mengagetkan banyak orang .  kaum Yahudi sekarang ini adalah satu-satunya masyarakat dimana hak-hak khusus dan privilese yang dicantumkan khusus bagi mereka dituliskan dalam ‘perjanjian-perjanjian’ dunia ( teks asli hak-hak istimewa bagi orang Yahudi  dalam perjanjian Versailles 1918 dipublikasikan pada bulan Juli 1920; harap dirujuk juga kepada hak-hak khusus dan privilese istimewa Israel dalam resolusi-resolusi PBB.
Kedua, terhadap sikap anti-Yahudi, ada tiga penyebab yang biasanya dijadikan mereka sebagai argument: pertama, prasangka keagamaan;kedua prasangka ekonomi; dan ketiga, antipati social. Masalahnya apakah kaum Yahudi itu menyadari atau tidak, bahwa bagi orang non-Yahudi, Yudaisme itu dipandang sebagai salah satu “agama wahyu” bersama-sama dengan agama Kristen dan Islam. Prasangka yang ada lebih banyak bersumber justru dari sebab-sebab non keagamaan. Soal kecemburuan ekonomi barangkali ada. Sudah bukan rahasia lagi keuangan dunia itu ada dalam genggaman para bankir Yahudi; keputusan dan kebijakan mereka menjadi ekonomi keuangan dunia barat. Kecemburuan ekonomi mungkin dapat menjelaskan sebagai salah satu sebab dari timbulnya sikap anti-Yahudi. Tapi bisa juga kecemburuan ekonomi menimbulkan “masalah Yahudi” itu merupakan uncsur kecil dari suatu problema yang lebih besar. Sedangkan soal antipati-sosial di masyarakat barat yang berkulit putih dan Kristen- beban antipati itu di barat bukan hanya dipikul oleh orang Yahudi, tetapi juga oleh orang kulit hitam, orang China, orang Muslim, serta komunitas lain di dunia ini, yang jumlah mereka justru lebih banyak daripada orang Yahudi.
Orang Yahudi itu tidak pernah menyebut-nyebut politik sebagai penyebabnya, atau jika mereka nyaris kesleo lidah yang bernada sugestif kearah itu, mereka segera membatasinya, atau melokalisasinya. Unsure politik yang inhaeren melekat pada masyarakat Yahudi, yaitu dimana saja mereka berada mereka senantiasa akan membentuk semacam “Negara” sendiri di dalam Negara tuan rumah. Ketertutupan sikap masyarakat Yahudi yang lebih mengutamakan hubungan internal di antara mereka sendiri, menjadi salah satu penyebab utama yang menimbulkan sikap anti-Yahudi.

Sumber: “Zionisme: Gerakan Penaklukan Dunia”, ZA. Maulani

No comments:

Post a Comment